home is not a place.
it is not four walls but two eyes and a heartbeat, it is a feeling, it is a person, it is a someone's somebody, everything you named it.
You used to be my home, at least I felt like that way, a home when I was in your arms.
You used to hold me that tight. *I'm laughing at my self now, someone please wake me up*
I miss you in that bad way. very dumb-hard one.
You are my second home after my mom's hugging. that was I believed until you said we were done. I repeat, done, over, no longer or anything the synonyms of this scariest word.
Do you want hear a joke?
Yeah, I'm trying to find by way back home to you.
I believe I'm not the only one who do this thing. We are trying to find a way back home yet we don't even sure that the one we called home is still there.
The worst, our home has already moved to the one they thought their new home. what a tragedy for us.
In the end, we are homeless.
aleas jomblo aleas belom meniqa paling parah jomblo lom move on ditinggal niqa. wlwlwlw.
Minggu, 30 Oktober 2016
Kamis, 08 September 2016
I did it in asdfghjkl; way
Alhamdulillah, I did it in
asdfghjkl;' way.
“Now, you are totally kick butt
into real world.” someone said.
I disagree with whoever said it
because that hell session that I have been through into this day is definitely
real world too. Really really real world. Now, I’m afraid what ‘the real world’
they have been said is. Semenyeramkan
apalagi?
Hampir enam bulan proses
pengajuan-ditolak-pengajuan-direvisi-pengajuan-dicuekin-disuruh nunggu tiba-tiba
ditinggal pas lagi sayang-sayangnya direvisi lagi dan lagi dan lagi yeah I
lost my count akhirnya beberapa hari lagi geser tali toga. Rasanya mengusahakan
geser tali toga lebih menantang sekali daripada menggeser posisi pacar kamu
loh, fyi aja.
Awal-awal pengajuan judul saya
sangat semangat sekali dan dengan kepedean luar biasa bahwa judul yang sudah
saya analisa mencari referensi kesana kemari, membuat rancangan nanti
kedepannya saya harus melakukan apa saja dapat disetujui langsung but yeah life
said no. No, I mean my advisor said no.
Iya ditolak sakit apalagi dengan
usaha yang saya kira cukup.
Ternyata engga.
Usaha lagi mulai dari awal
baca-print-baca-print-ngajuin-ditolak-nyari-baca-print-ngajuin-direvisi-diacc
akhirnya. Entah karena tampang saya setiap mengajukan judul terlihat sangat
amat depresi atau memang judul saya layak, saya bersyukur judul sudah mendapat
lampu hijau.
Kemudian proposal, kembali lagi
ke siklus siang jadi malem malem jadi siang. Saya manusia nocturnal –aktif di
malam hari jadi semua pekerjaan susun menyusun prosposal ini saya lakukan malam
hari. Siang mencari referensi malam menyusun sambil marathon drama korea.
Masih sempat-sempatnya?
Iya, saya sempat-sempatkan.
Menonton, membaca fiksi tetap jalan –biar tetap waras.
Bahkan untuk mendapatkan mood
mengerjakan skripsi saya harus nonton dua episode Descendant of the Sun dulu,
atau memasak mie rebus dengan irisan rawit atau menyambar twit di timeline
sampai tengah malam baru konsen di depan lepi dan menyebar referensi seluas
kamar. Yeah, judge me anything you want to.
Kemudian skripsi udah diacc
walaupun sebelumnya harus kesana kemari dan terserang panic attack karena yang
lain sudah mengantongin tanda tangan sedangkan di lembar persetujuan saya masih
suci, polos putih bersih bersinar. :(
Dan akhirnya sidang.
Sebelum musim skripsipun saya
sudah mentargetkan hasil skripsi harus sekian, dan target itu saya pasang
segede gaban di kamar –untuk mengingatkan saya engga boleh main-main lagi.
Setelah sudah merasa cukup dengan persiapan yang perlu saya siapkan berangkat
sidang seperti akan berkemah –alias neteng dua tas berisi laporan hasil
penyelitian, jurnal, buku dan lain lainnya. Sidang lancar, di luar dugaan tetapi beberapa
semuanya harus dirombak lagi, dari awal.
Pengin nangis? Iya.
Tapi ya gimana lagi. So I did those
things –revisi dan hidup di siklus tidur pas subuh, lagi.
Seperti yang mereka bilang; “no
matter how you prepare something perfectly, shit happens.”
Tiba-tiba lantai Tata Usaha
serasa amblas ke kerak bumi, ancur.
Kalo setelah sidang pengin
nangis, sekarang sudah bukan pengin nangis lagi.
Pengin guling-guling di aspal
sambil nangis terus teriak teriak “KENAPA HIDUP SEKEJAM INI?!”
Lebay?
Iya.
aku merasa engga ada seorangpun mengerti di
posisi ini. Mereka hanya berkata; “yang sabar, kamu harusnya
bersyukur.” , “kamu masi tetep dapat posisi **** loh.”
WHAT DID YOU SAY? I DON’T FUCKING
CARE WITH ‘yang penting lulus’ THINGS. I do care with those things hanging on
my wall. I do care with them so much.
Pada titik ini, satu hal yang
saya sadari ternyata saya amat sangat keras kepala sekali. Hari-hari berikutnya seharusnya saya merevisi lagi,
seharusnya. Tetapi engga, tiduran, makan, minum, tiduran, nangis. Repeated.
kemudian orang-orang tidak berperi
kemanusian dengan bangga meng-applaud jilidan skripsi mereka sementara saya
masih bermuram durja belum bisa menerima kenyatan. But I’m the luckiest one,
beberapa ada yang memberi ‘es batu’ di keras kepalanya saya, the greatest
supporting systems of mine. Thank you anyway.
Kalau dikecewakan diri sendiri
adalah hal paling menyedihkan –the worst feeling ever, berdamai dengan diri
sendiri adalah opsi terakhir. You have no choice but accept the fact.
“If you think that hell result
is not enough than make it enough later.”
So here I am! \o/~
Langganan:
Postingan (Atom)