Kamis, 08 September 2016

I did it in asdfghjkl; way



Alhamdulillah, I did it in asdfghjkl;' way. 

“Now, you are totally kick butt into real world.” someone said.
I disagree with whoever said it because that hell session that I have been through into this day is definitely real world too. Really really real world. Now, I’m afraid what ‘the real world’ they have been said is.  Semenyeramkan apalagi? 

Hampir enam bulan proses pengajuan-ditolak-pengajuan-direvisi-pengajuan-dicuekin-disuruh nunggu tiba-tiba ditinggal pas lagi sayang-sayangnya direvisi lagi dan lagi dan lagi yeah I lost my count akhirnya beberapa hari lagi geser tali toga. Rasanya mengusahakan geser tali toga lebih menantang sekali daripada menggeser posisi pacar kamu loh, fyi aja. 

Awal-awal pengajuan judul saya sangat semangat sekali dan dengan kepedean luar biasa bahwa judul yang sudah saya analisa mencari referensi kesana kemari, membuat rancangan nanti kedepannya saya harus melakukan apa saja dapat disetujui langsung but yeah life said no. No, I mean my advisor said no. 

Iya ditolak sakit apalagi dengan usaha yang saya kira cukup.
Ternyata engga. 

Usaha lagi mulai dari awal baca-print-baca-print-ngajuin-ditolak-nyari-baca-print-ngajuin-direvisi-diacc akhirnya. Entah karena tampang saya setiap mengajukan judul terlihat sangat amat depresi atau memang judul saya layak, saya bersyukur judul sudah mendapat lampu hijau. 

Kemudian proposal, kembali lagi ke siklus siang jadi malem malem jadi siang. Saya manusia nocturnal –aktif di malam hari jadi semua pekerjaan susun menyusun prosposal ini saya lakukan malam hari. Siang mencari referensi malam menyusun sambil marathon drama korea. 

Masih sempat-sempatnya? 

Iya, saya sempat-sempatkan. Menonton, membaca fiksi tetap jalan –biar tetap waras. 

Bahkan untuk mendapatkan mood mengerjakan skripsi saya harus nonton dua episode Descendant of the Sun dulu, atau memasak mie rebus dengan irisan rawit atau menyambar twit di timeline sampai tengah malam baru konsen di depan lepi dan menyebar referensi seluas kamar. Yeah, judge me anything you want to.

Kemudian skripsi udah diacc walaupun sebelumnya harus kesana kemari dan terserang panic attack karena yang lain sudah mengantongin tanda tangan sedangkan di lembar persetujuan saya masih suci, polos putih bersih bersinar. :( 
 
Dan akhirnya sidang. 

Sebelum musim skripsipun saya sudah mentargetkan hasil skripsi harus sekian, dan target itu saya pasang segede gaban di kamar –untuk mengingatkan saya engga boleh main-main lagi. Setelah sudah merasa cukup dengan persiapan yang perlu saya siapkan berangkat sidang seperti akan berkemah –alias neteng dua tas berisi laporan hasil penyelitian, jurnal, buku dan lain lainnya. Sidang lancar,  di luar dugaan tetapi beberapa semuanya harus dirombak lagi, dari awal. 

Pengin nangis? Iya. 

Tapi ya gimana lagi. So I did those things –revisi dan hidup di siklus tidur pas subuh, lagi.

Seperti yang mereka bilang; “no matter how you prepare something perfectly, shit happens.” 

Tiba-tiba lantai Tata Usaha serasa amblas ke kerak bumi, ancur.
Kalo setelah sidang pengin nangis, sekarang sudah bukan pengin nangis lagi.
Pengin guling-guling di aspal sambil nangis terus teriak teriak “KENAPA HIDUP SEKEJAM INI?!” 

Lebay?
Iya.

aku merasa engga ada seorangpun mengerti di posisi ini. Mereka hanya berkata; “yang sabar, kamu harusnya bersyukur.” , “kamu masi tetep dapat posisi **** loh.”
WHAT DID YOU SAY? I DON’T FUCKING CARE WITH ‘yang penting lulus’ THINGS. I do care with those things hanging on my wall. I do care with them so much.    

Pada titik ini, satu hal yang saya sadari ternyata saya amat sangat keras kepala sekali.  Hari-hari berikutnya seharusnya saya merevisi lagi, seharusnya. Tetapi engga, tiduran, makan, minum, tiduran, nangis. Repeated. 

kemudian orang-orang tidak berperi kemanusian dengan bangga meng-applaud jilidan skripsi mereka sementara saya masih bermuram durja belum bisa menerima kenyatan. But I’m the luckiest one, beberapa ada yang memberi ‘es batu’ di keras kepalanya saya, the greatest supporting systems of mine. Thank you anyway.

Kalau dikecewakan diri sendiri adalah hal paling menyedihkan –the worst feeling ever, berdamai dengan diri sendiri adalah opsi terakhir. You have no choice but accept the fact. 

“If you think that hell result is not enough than make it enough later.” 

So here I am! \o/~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar